( ML)Ambon – Perjalanan hidup seorang perempuan seringkali penuh dengan dinamika, menyeimbangkan peran dalam keluarga dan karier. Namun, bagi Safitri Malik Soulisa, perjalanan itu justru membawanya mengukir sejarah baru di dunia politik Maluku. Sosok yang kini dikenal sebagai Bupati Perempuan pertama di Kabupaten Buru Selatan ini membuktikan bahwa latar belakang sebagai ibu rumah tangga bukanlah penghalang untuk memimpin sebuah daerah.
Lahir di Ternate pada 15 September 1977, Safitri tumbuh dalam didikan keluarga yang kuat. Ia merupakan anak bungsu dari tujuh bersaudara, pasangan Drs. Muhammad Malik dan Stien Sarapung Malik. Nilai-nilai kedisiplinan dan kemandirian telah ditanamkan sejak dini. Sang ayah, yang pernah menjabat sebagai Camat, mengajarkan arti tanggung jawab dan idealisme, sementara ketegasan ibunya membentuk karakternya agar tidak mudah bergantung pada orang lain.
Kiprah Politik dan Pendidikan
Safitri merupakan istri dari mantan Bupati Buru Selatan dua periode (2011–2020), Tagop Sudarsono Soulisa. Dalam kehidupan rumah tangga, ia dikenal sebagai ibu yang penuh kasih sayang dari empat orang anak. Bahkan, garis keturunan kepemimpinan tampak terlihat jelas, di mana dua putranya kini juga telah mengikuti jejak di dunia politik, yakni Sugiharto Aris Soulisa (Anggota DPRD Kota) dan Muhammad Akmal S. Soulisa (Anggota DPRD Provinsi).
Perjalanan politik Safitri tidak terjadi dalam semalam. Sebelum terjun ke kancah publik, ia mengawali peran utamanya sebagai ibu rumah tangga. Namun, pengalaman organisasi sejak masa sekolah, seperti aktif di Pramuka dan Paskibraka, telah menjadi fondasi awal dalam membentuk jiwa kepemimpinannya.
Dukungan keluarga dan lingkungan yang sarat dengan dinamika politik membawanya melangkah lebih jauh. Safitri kemudian terpilih sebagai Anggota DPRD Provinsi Maluku periode 2014–2019. Pengalaman di legislatif inilah yang menjadi bekal berharga, hingga akhirnya rakyat mempercayainya untuk memimpin. Ia dilantik sebagai Bupati Buru Selatan pada Juni 2021 untuk periode 2021–2026.
Selain aktif di pemerintahan, Safitri juga menunjukan komitmennya terhadap pendidikan. Ia berhasil menyelesaikan studi pascasarjana Program Studi Administrasi Publik di Universitas Pattimura tepat pada tahun yang sama dengan pelantikannya, tahun 2021.
Filosofi Kepemimpinan: Memimpin adalah Melayani
Dalam wawancara eksklusif melalui sambungan telepon WhatsApp bersama para jurnalis perempuan Indonesia, Jumat (24/04/2026), Safitri membagikan pandangannya mengenai kepemimpinan.
Baginya, jabatan bukan sekadar status atau kekuasaan, melainkan amanah dan tanggung jawab besar.
“Pekerjaan harus dinikmati, bukan dikeluhkan. Karena menjadi pemimpin berarti siap melayani. Kepemimpinan adalah bentuk pengabdian kepada masyarakat, bukan sekadar soal suka atau tidak suka,” tegas Safitri.
Sebagai pionir perempuan di kursi kepala daerah di Buru Selatan, ia memiliki pesan kuat bagi sesama wanita. Ia mengajak kaum perempuan untuk saling menguatkan dan menghindari sikap saling menjatuhkan atau iri hati.
“Sesama perempuan jangan saling menjatuhkan atau ‘julid’. Kita harus menunjukkan bahwa perempuan mampu dan punya kapasitas. Keberhasilan satu perempuan harus menjadi inspirasi bagi yang lain,” ujarnya.
Keluarga sebagai Prioritas dan Inspirasi
Meski memegang tanggung jawab besar memimpin daerah, Safitri tidak pernah meninggalkan perannya sebagai istri dan ibu. Ia menekankan bahwa keseimbangan antara karier dan keluarga sangat mungkin dicapai melalui komunikasi yang baik.
“Dalam keluarga, saya menerapkan komunikasi terbuka. Demokrasi bisa dimulai dari rumah, dengan melibatkan anak-anak dalam pengambilan keputusan serta memberi ruang bagi mereka untuk berkembang,” ungkapnya.
Safitri juga mengaku memiliki sosok panutan dalam memandang gaya kepemimpinan. Ia mengapresiasi figur Hendrik Lewerissa sebagai salah satu pemimpin di Maluku yang dinilainya memiliki karakter dan pendekatan yang baik, yang menjadi referensi baginya dalam berinteraksi dan melayani masyarakat.
Berbagai momen telah dilaluinya selama menjabat, termasuk tantangan menghadapi masa pandemi COVID-19 yang menjadi pengalaman berharga dan tak terlupakan dalam perjalanan politiknya. Di sela-sela kesibukannya, ia pun memiliki mimpi sederhana, yakni berkesempatan mengunjungi negara-negara lain untuk melihat langsung budaya dan kehidupan masyarakat di sana.
Pesan Menyentuh Hati untuk Perempuan
Di akhir perbincangan, Safitri Malik Soulisa menitipkan pesan yang sangat menyentuh, khususnya bagi para ibu rumah tangga dan perempuan pekerja agar tidak pernah meragukan potensi diri sendiri.
“Perempuan itu kuat. Jangan pernah merasa kecil hanya karena kita seorang ibu rumah tangga. Justru dari rumah kita membangun generasi. Peran sebagai ibu bukanlah batasan, melainkan fondasi kekuatan untuk berkembang lebih jauh,” kata Safitri.
“Kalau kita punya kesempatan untuk berkembang, ambil. Kalau kita bekerja, jalani dengan ikhlas. Yang penting kita tetap tahu peran kita, tetap menjaga keluarga, dan terus berusaha menjadi lebih baik,” pungkasnya penuh semangat.
Dengan segala perjuangan dan prestasinya, Safitri Malik Soulisa kini bukan hanya memimpin Buru Selatan, tetapi juga menjadi inspirasi nyata bahwa perempuan mampu berprestasi, memimpin, dan tetap menjadi tulang punggung keluarga.





